Jumat, 10 November 2017

Harga Diri Pelacur dalam Begum Jaan



Begum Jaan (2016) adalah film yang mengisahkan kehidupan para pelacur di awal kemerdekaan India dan di tengah konflik pemisahan India-Pakistan. Film yang disutradarai oleh Srijit Mukherji ini menampilkan Vidya Balan sebagai Begum Jaan, pelacur sekaligus pemilik rumah bordil yang terletak tepat di perbatasan India-Pakistan. Film ini hanya meraih poin 5.6/10 di IMDB. 5.6/10 untuk film dengan opening dan ending yang teramat epic. Para kritikus film memang layak dikutuk sebagai manusia yang kurang menghargai mahalnya ledakan sensasi dari hal-hal kecil.

Saya akan sedikit membahas tentang pembukaan film ini yang bagaimanapun cukup mengesankan. Hanya saja, saya tidak ingin memberi tahu ending film ini yang benar-benar membuat saya tidak habis pikir mengapa film ini meraih angka yang begitu rendah.

Mari kita mulai dari opening film.

Begum Jaan dibuka dengan adegan seorang gadis remaja yang dikejar segerombolan pemuda teler yang hendak memperkosanya beramai-ramai. Sekuen pembuka yang singkat ini kemudian diakhiri dengan munculnya sesosok perempuan lanjut usia berumur 80-an yang tiba-tiba berdiri di depan gadis tersebut. Si perempuan tua tadi tanpa diduga melucuti bajunya satu per satu hingga ia telanjang bulat. Melihat “seonggok” badan keriput yang bugil di depannya, para pemuda teler tadi menjadi ketakutan dan terbirit-birit. Fragmen ini menjadi sekuen pembuka yang menurut saya begitu epic. Terlebih, si Perempuan Tua berdiri telanjang di depan depan bendera India yang berkibar-kibar.

Sekuen pembuka ini sebenarnya mengajak kita melihat permasalahan kontemporer di India tentang nasib perempuan di sana. Di India, nasib perempuan disebut tidak lebih aman daripada sapi. Sementara sapi disembah dan dihormati sebagai hewan yang sakral, perempuan-perempuan India justru senantiasa dicekam rasa takut atas berbagai kekerasan seksual.

Setting waktu lantas mundur ke tahun 1947 ketika India baru saja merebut kemerdekaan dari Inggris dan tengah terjadi konflik pemisahan India-Pakistan. India sebagai tanah orang-orang Hindu, Pakistan untuk tanah-tanah orang Islam. Sementara itu, setting latar diambil di sebuah rumah bordil yang terletak di tengah garis batas kedua negara tersebut.

Sampai di titik ini, kita telah dijatuhi berbagai pertanyaan yang membuat kita begitu penasaran. Siapa perempuan tua renta tadi? Mengapa film ini menyajikan isu feminisme India masa kini kemudian membawa kita mundur ke masa lalu dengan isu yang begitu rumit: kemerdekaan, konflik Hindu-Islam, pelacuran. Mampukah film ini menemukan benang merah antara masa lalu dengan masa sekarang? Antara kekuasaan, agama, dan perempuan? Maka, 120 menit berikutnya adalah upaya sutradara Srijit Mukherji untuk mencoba menghubungkan konflik-konflik yang rumit dan tumpuk undung tersebut.

Dalam salah satu fragmen, film ini mengkritik para politikus dan kaum agamawan India melalui sudut pandang sosok Begum Jaan. Fragmen ini menceritakan kedatangan para politikus dari kelompok Hindu dan kelompok Islam  ke rumah bordil untuk memberikan surat perintah pengosongan rumah bordil. Rumah bordil akan segera diratakan, pagar kawat pembatas India-Pakistan akan segera didirikan. Mendengar perintah tersebut, Begum Jaan justru terbahak-bahak. Ia kemudian mendatangi salah seorang pelanggan dan memberinya pertanyaan:

Did you ask about the girl’s caste, her religion? Is she hindu or muslim? Hei Mr. Brahman, you were in a bed with a girl. Do you know her caste? She’s sudra.
Selanjutnya, Begum Jaan kemudian mengalihkan omongannya pada dua politikus perwakilan India dan Pakistan tadi:

Hey Mr, we didn’t asked them any question either. Caste, creed, religion. They just chose a girl, fixed a price and we welcomed them. Call this brother or a whorehouse. This is my home, my country. There are no hindus or muslims, high or low caste.
Fragmen di atas kita tahu telah mengkritik berbagai isu secara bersamaan. Sudut pandang kritik yang disampaikan oleh seorang perempuan saja sudah mengindikasikan bahwa film ini berusaha mengangkat isu feminisme: perempuan yang berani bersuara. Belum lagi, fragmen ini juga menyajikan kaum-kaum agamawan yang moralis namun haus kekuasaan.

Carut marut isu kekuasaan, agama, dan perempuan memang perihal yang begitu pelik di India. Institusi politik sebagai instrumen kuasa memang selalu bekerjasama dengan kaum agamawan untuk terus melanggengkan narasi perempuan sebagai second sex, jenis kelamin yang berada satu tingkat di bawah kelamin laki-laki. Maka, kaum perempuan India sejak dulu hingga hari ini masih terus mengalami represi seksual yang dilegitimasi melalui kultur patriarki dan dalil-dalil agama. Kaum perempuan hindu harus bersedia dinikahi orang yang memiliki kasta lebih tinggi, sementara kaum perempuan muslim harus menuruti perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Mereka tak punya kesempatan untuk memilih. Maka ketika Begum Jaan sebagai perempuan sekaligus pelacur menyampaikan kritik kerasnya tentang kasta, politik, dan gender di depan dua politikus dan agamawan tadi, film ini seolah ingin menyampaikan dengan tegas bahwa politikus dan agamawan di India sebenarnya sama sekali tidak lebih ‘tinggi’ dibanding sosok perempuan. Bahkan mereka lebih ‘rendah’ daripada sosok pelacur.

Sebagaimana kebanyakan film India modern, Begum Jaan memang berusaha menyampaikan berbagai isu sosial. Sayangnya, isu politik, agama, dan gender, ini tidak disampaikan secara rapi dan seringkali berjejalan dalam satu fragmen. Banyak sekali fragmen-fragmen yang terasa mubadzir dan dipanjang-panjangkan untuk menyampaikan isu tersebut. Sebut saja dongeng-dongeng yang diceritakan Amma (Ila Arun) – perempuan tua yang bekerja di rumah bordil Begum Jaan— yang menyajikan mitologi-mitologi India tentang perempuan-perempuan kuat di zaman dahulu. Fragmen-fragmen yang disajikan dalam gambar hitam putih ini menurut saya selain terlalu banyak juga gagal memperlihatkan kekuatan kaum perempuan. Ia justru disajikan seperti film humor klasik yang menyajikan artis-artis dengan ekspresi yang kaku dan datar. Benar-benar seperti parodi.

Saya sebenarnya juga sedikit kecewa dengan tindakan resistensi perempuan dalam film ini yang lebih ditampilkan dalam wujud resistensi fisik: perempuan berani berdebat, perempuan bisa pegang senjata, perempuan berani perang. Saya sebenarnya berharap bahwa sosok pelacur di film ini ditampilkan seperti sosok Firdaus di novel Perempuan di Titik Nol karya Nawaal El Saadawi. Dalam novel yang dianggap sebagai adikaryanya tersebut, Nawaal berhasil menghadirkan perempuan yang melawan dengan penuh kesadaran melalui erotisme: membuat lelaki bertekuk lutut, menyerah, dan tak berdaya di hadapannya. Ia membuat lelaki hadir sebagai makhluk yang sangat lemah dan tak punya wibawa apapun ketika datang hasrat libidonya.

Bagaimanapun, Begum Jaan adalah film yang layak ditonton terutama bagi kalian yang menyukai film-film bertema perempuan. Terlepas dari kekurangan-kekurangan di banyak adegan film tersebut, Begum Jaan pada akhirnya benar-benar berhasil menyajikan perlawanan kaum perempuan yang sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya. Kalau tak percaya, tonton saja endingnya.

Urusan Boker yang Rumit di Toilet Ek Prem Katha



Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas? Ambil gajah, buka pintu kulkas, masukkan gajahnya, tutup pintu kulkasnya. Sederhana bukan? Sesederhana pertanyaan “bagaimana cara memasukkan tahi ke dalam kakus?”.  Masuk toilet, buka celana, nikmati prosesnya, biarkan kakus melumat tuntas hajatmu sampai tak berbekas. Urusan perut lega, kita bahagia.

Urusan buang hajat memang sederhana, kecuali jika kita tinggal di India. Bayangkan saja, di negara berpenduduk kurang lebih 600 juta tersebut, lebih dari 300 juta warganya belum memiliki toilet di rumah. Sementara itu, 70 persen dari rumah tangga juga memilih tak membangun tempat merenung terbaik tersebut. Urusan tersebut akan semakin rumit jika kita memahami bahwa toilet bukan sekadar urusan buang tahi lalu kelar. Nyatanya, permasalahan toilet juga bersilang paut dengan permasalahan tradisi, agama, hingga gender di India. Mbulet. Dan urusan mbulet-nya boker di India ini disampaikan dengan cukup oke oleh film Toilet Ek Prem Katha (2017) yang disutradarai oleh Shree Narayan Singh dan dibintangi oleh artis kawakan Akhsay Kumar dan Bhumi Pednekar.

Plot utama dari Toilet Ek Prem Katha adalah rencana Jaya (Pednekar) menceraikan suaminya, Keshav (Kumar), yang tak mampu juga membangun toilet di rumahnya setelah menikah selama 6 bulan. Di India, seorang istri memang berhak dan legal menceraikan suaminya yang enggan membangun toilet di rumahnya. Legalitas tersebut hadir seiring dengan gencarnya kampanye sanitasi yang digencarkan pemerintah India sejak tahun 2014. Dalam film ini, Keshav sebenarnya sudah berniat membangun toilet di rumahnya demi Jaya. Akan tetapi, keinginan Keshav untuk membangun toilet tak sesederhana yang dibayangkan. Keshav ternyata harus menghadapi ayahnya, seorang tradisionalis kolot dan fanatis, yang menganggap buang hajat di semak-semak adalah tradisi nenek moyang yang perlu dipertahankan. Lebih parahnya, masyarakat di desa Keshav juga setali tiga uang. Baik mayoritas lelaki maupun perempuan di sana menganggap bahwa membuang hajat di dalam rumah justru membuat rumah mereka tak suci dan jorok.





“Only animals which defeated in outdoor place”, ucap Jaya berkali-kali. Jaya yang pernah mengenyam kuliah di Jepang tentu saja merasa geli bukan main ketika perempuan di desa Keshav mengajaknya mengikuti “Lota Party”, sebuah “pesta” buang hajat bersama yang dilakukan saat subuh. Dimana perempuan ini buang hajat? Mereka melakukannya di semak-semak.




Para lelaki sebenarnya lebih parah lagi. Mereka terbiasa melakukannya di pinggir jalan, di pematang sawah, atau bahkan di samping rumah.




Adapun konflik utama dalam film ini terjadi ketika Jaya dan Keshav akhirnya bersatu dan berupaya menyadarkan masyarakat India akan pentingnya sanitasi. Mereka memilih memanfaatkan media dan pemerintah untuk mengubah mindset masyarakatnya. Lalu, apa yang terjadi berikutnya? Kontroversi di se-antero Indialah jawabannya. Kali ini bukan hanya soal tradisi, agama, dan gender, orang-orang bahkan tak segan menyalahkan pendidikan sebagai penyebabnya. Mereka menyebut Jaya sebagai “The girl poisoned by education”.

Jika kamu sering menonton film India, tentu kamu tak asing lagi dengan formula film India modern. Pertama, tangkap isu sosial yang tengah ramai diperbincangkan. Kedua, ambil sikap entah pro atau kontra terhadap kebijakan pemerintah India atas isu tersebut. Ketiga, selipkan isu budaya, agama, atau gender di dalamnya. Ketiga unsur tersebut tentu saja masih dominan dalam Toilet Ek Pram Katha. Narayan Singh menyajikan pada kita fragmen demi fragmen yang dengan jelas mendukung kampanye sanitasi yang sebenarnya pernah disampaikan Mahatma Gandhi saat baru memerdekakan India puluhan tahun lalu. Keberpihakan Narayan Singh pun disajikan melalui adegan-adegan yang memorable dan penuh kritik sosial. Sebut saja misalnya adegan ketika Ayah Keshav terjungkal dari motor saat berniat melirik seorang perempuan yang tengah buang hajat di semak-semak yang ternyata adalah Jaya, menantunya sendiri. Dalam film garapannya ini, Narayan Shingh juga berhasil menghadirkan Jaya sebagai sosok yang memikat. Jaya tidak ditampilkan sebagai perempuan berpendidikan modern yang sok open-minded dan pada akhirnya hanya mampu mengeluh dan menghujat tradisi lokal sambil membanding-bandingkannya dengan budaya Barat. Ia misalnya sudi beberapa kali mencoba Lota Party dan alih-alih terus marah pada Keshav, ia juga bersedia menerima ajakan Keshav untuk buang hajat di toilet kereta yang tengah istirahat. Jaya adalah perempuan yang kuat meski pada akhirnya ia tetap menangis. Tapi tangisan Jaya membuat kita turut berempati alih-alih menganggapnya sebagai perempuan manja. Namun dari semua keistimewaan Jaya, ia nampak paling istimewa ketika dihadirkan sebagai perempuan yang pandai menulis dan berani menyampaikan opininya di media massa. Bukankah perempuan yang pandai menulis dan berani bersuara adalah sememikat-memikatnya perempuan?




Film ini jelas bukan tanpa kekurangan. Meski mampu menyajikan fragmen demi fragmen yang memorable tentang isu sanitasi dan menghadirkan tokoh perempuan yang cukup mengesankan, Toilet Ek Prem Katha nyatanya masih jauh dari kata sempurna. Kekurangan utama dari film ini adalah penyajian isu sanitasi yang baru disajikan setelah 50 menit film berjalan. Sementara itu, dari menit pertama hingga 50, film ini praktis hanya menyajikan kisah cinta yang dikemas secara lebay à la film India. Rayuan Keshrav yang basi dan terlalu gombal, adegan menyanyi dan menari yang biasa-biasa saja, hingga hampir tidak adanya fragmen yang menunjukkan betapa joroknya orang India yang membuat kita sebagai penonton sempat bertanya, “sebenarnya film ini mau ngomongin apa sih?”. Ya, dan jika kita tidak sabar-sabar menunggu film ini berjalan hingga 50 menit pertama, saya jamin kita tak akan pernah paham: betapa rumitnya urusan boker di India.
.
.
.
Nilai: 7/10

Bridesmaid, Bridalshower, Babyshower, Praksis Teori Bunglon Couple Zaman Now?


“Sejak kapan istilah pagar ayu berubah jadi bridesmaid?.”
Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja ketika beberapa hari lalu saya menemukan sebuah undangan cantik di atas meja sepupu saya, dengan warna pink motif bunga daisy dan sebuah kalimat “Will you be my bridesmaid?”.
Sebagai seorang pemuda yang baru saja lulus S1 dan masih memasuki tahap usia-orang-tanya-kerja-dimana, barangkali cukup aneh jika saya mengakui bahwa saya begitu tertarik pada obrolan seputar, ehm, pernikahan. Terlebih jika dipikir lagi, saya bahkan belum genap berumur 23 tahun. Wong dari seluruh redaktur Kibul yang rata-rata sudah berkepala tiga saja, nyatanya baru Andreas Nova yang sudah meminang istri. Kok saya yang ribut menulis tema ini?
Akan tetapi di zaman kiwari seperti sekarang, pertanyaan soal menikah nyatanya tak melulu menghantui pria-pria matang usia. Terlebih jika kamu misalnya mengenal baik seorang gadis keturunan Betawi yang mengapresiasi prinsip hidup “halalkan atau tinggalkan”, mengidolai Payung Teduh sejak menciptakan lagu Akad, dan yang paling pas, hidup di tengah era bisnis wedding organizer tengah begitu menggeliat.
Bisnis wedding organizer tengah begitu menggeliat. Ia menawarkan pada kita paket-paket yang seringkali nampak begitu indah. Foto prewedding dengan latar bangunan-bangunan bersejarah, pesta pernikahan dengan menu makanan dari lima benua, hingga video dokumenter yang pakai drone segala.
Couple zaman now bahkan rela merogoh kocek ratusan juta rupiah demi merayakan hari besarnya. Tentu saja hal tersebut sah-sah saja. Toh banyak orang menganggap pernikahan adalah hari terindah dalam hidupnya. Hari terindah harus dirayakan dengan cara yang maksimal dong? Saya pribadi seandainya punya uang ratusan juta rupiah, saya tak akan eman-eman kok memberikan mas kawin seperangkat gedung perpustakaan dibayar tunai.
Akan tetapi dari sekian prosesi pernikahan yang ditawarkan wedding organizer, saya justru menggelisahkan penggunaan istilah-istilah seperti bridesmaid atau bridalshower yang hits akhir-akhir iniKenapa mesti pakai bahasa Enggris?
Saya kira ini merupakan sebuah gejala kebudayaan yang menarik. Adanya bridesmaid dan bridalshower pada pernikahan sepasang pengantin dari Desa Kalipetung, misalnya, tentu tak bisa dipandang sebagai bagian dari prosesi sakral pernikahan saja. Hal ini bahkan bisa dilihat sebagai gejala bahwa banyak couple zaman now begitu terobsesi pada segala hal yang memiliki citra ‘internasional’. Dan tentu saja kita tahu bahwa ‘internasional’ di sini tak akan merujuk pada negara  macam Lesotho, Gabon, atau Tanzania, namun jelas merujuk pada sesuatu yang berasal dari Barat: Eropa atau Amerika.
Kata bridesmaid, misalnya, ia merujuk pada perempuan-perempuan yang menjadi pendamping mempelai wanita di hari pelaksanaan pernikahan. Dalam budaya Jawa, konsep bridesmaid sebetulnya sangat mirip—kalau tidak serupa— dengan apa yang kita kenal sebagai putri domas atau pagar ayu.
Selanjutnya ada pula bridalshower. Apa lagi nih? Ketika pertama kali mendengar istilah tersebut, saya pun mencoba menebak arti harafiahnya. Jika bridal berarti bunga untuk pengantin, dan shower berarti pancuran untuk mandi, maka bridalshower adalah mandi bunga.
“Owalaah, padusan to”, batin saya.
Namun praduga saya ternyata meleset total. Bridalshower nyatanya tak ada hubungannya sama sekali dengan prosesi siraman air apalagi mandi kembang tujuh rupa. Usut punya usut, bridalshower ternyata merujuk pada pesta lajang pengantin perempuan beberapa hari menjelang pernikahan. Pada saat bridalshower, pengantin perempuan akan mengundang teman-teman terdekatnya untuk berkumpul dan saling ngobrol dengan akrab(girls talk). Selanjutnya teman-teman pengantin perempuan akan memberikan kenang-kenangan tertentu sebagai kado pernikahan. Dalam budaya Jawa, sekilas acara ini mirip dengan tradisi midodareni.
Melihat menanjaknya popularitas istilah bridesmaid dan bridalshower –plus tindakan praksisnya— yang menggantikan istilah pagar ayu dan midodareni, mau tak mau saya jadi mengingat teori ‘membunglon’ alias teori mimikri dari seorang pakar teori pascakolonial bernama Homi K. Bhabha. Dalam esainya “Of Mimicry and Man: The Ambivalence of Colonial Discourse” (The Location of Culture, 1994), Bhabha–seperti para teoritikus paskolonial lainnya—membahas tentang kecenderungan masyarakat bekas negeri jajahan (Timur) yang suka meniru identitas tertentu dari negeri yang pernah menjajahnya (Barat). Meskipun demikian, Bhabha tidak sepenuhnya memandang fenomena ini dengan nada pesimistis. Bagi Bhabha, mimikri tak bisa selalu dipandang sebagai pertanda inferioritas orang Timur terhadap orang Barat. Bhabha justru  menyoroti bahwa sebagian besar praksis mimikri yang dilakukan masyarakat bekas jajahan, justru cenderung tidak murni atawa 100 persen meniru cara Barat. Dalam bahasa Bhabha, subjek yang melakukan mimikri ini bersifat “almost same but not quite”, “hampir serupa tapi tak sama”. Lebih jauh lagi, Bhabha bahkan meyakini bahwa tindakan mimikri yang hanya sebagian (metonimis) itu, justru memberi kesempatan pada subjek terjajah untuk menemukan ‘ruang antara’ sebagai tindak resistensi atau perlawanan.
Hal tersebut sekilas dapat kita lihat dari praksis bridesmaid dan bridalshower di Indonesia. Meski jelas memilih kata bridesmaid dibanding pagar ayu, namun couple zaman now nyatanya cenderung memilih model pakaian khas Indonesia sebagai kostum bridesmaid mereka. Alih-alih memilih dress model Barat, kebanyakan bridesmaid masih memakai kebaya bahkan berhijab. Begitu pula dalam hal bridalshower. Meski bagi saya hal ini nampak genit dan tidak penting-penting amat, namun perlu diakui bahwa couple zaman now cenderung melakukan pesta lajang ini dengan hal-hal yang positif. Jangan bayangkan mereka melakukan pesta lajang seperti di tiga seri film The Hangover. Sebagian besar bridalshower Indonesia saya kira masih menghindari laku hidup perempuan Barat seperti minum anggur alias mabu-mabu.
Sampai di sini kemudian muncul pertanyaan, benarkah praksis bridesmaid dan bridalshower di Indonesia merupakan tindak ‘membunglon’ yang bisa dipandang positif atau bahkan semacam tindak resistensi?
Dengan sedikit menyesal, saya mesti meragukan hipotesa awal tersebut. Mengapa? Hal ini saya simpulkan setelah saya mempelajari sejarah dari bridalshower.
Singkatnya begini. Sejarah bridalshower bermula dari sebuah kisah rakyat yang berasal dari Belanda.
Alkisah, pada saat itu hiduplah sepasang calon pengantin berbeda latar belakang. Yang perempuan adalah keturunan bangsawan, sementara yang lelaki hanya seorang anak petani. Meski hanya seorang anak petani, namun sang lelaki sangatlah baik hati dan suka berderma. Hal tersebut membuat sang lelaki tak hanya dicintai calon istrinya, namun juga semua masyarakat desanya.
Malangnya, hubungan mereka tak direstui ayah dari pihak perempuan. Sang ayah justru bersikeras untuk menikahkan anaknya dengan seorang bangsawan yang bertubuh mirip babi. Mengetahui hal tersebut, masyarakat desa pun merasa tak terima. Mereka lalu berinisiatif mengumpulkan sebagian harta mereka sebagai pengganti mahar yang sesuai dengan tuntutan sang ayah. Berkat bantuan dari para warga, akhirnya kedua calon pengantin pun bisa menikah dan hidup bahagia.
Dari kisah rakyat tersebut, kita mengetahui bahwa bridalshower sebenarnya memiliki makna filosofis berupa ‘menyiram’ rezeki untuk pasangan pengantin yang rudin alias kurang mampu. Sementara itu, bridalshower hari ini justru lebih sering dirayakan oleh pasangan-pasangan yang relatif memiliki modal ekonomi berkecukupan. Kan fals jadinya? Maka dari kontradiksi inilah, saya mengira bahwa banyak couple zaman now sebenarnya tak paham-paham amat dengan budaya Barat yang dipilihnya. Pada akhirnya, sulit untuk menyebut bahwa ada tindak resistensi dalam pernikahan tersebutSebab, setiap resistensi selalu diawali dengan pemahaman yang kuat dan utuh terhadap (budaya) yang ‘dilawannya’. Sementara praksis bridesmaid-bridalshower zaman now justru dipilih tanpa pemahaman latar historis yang kuat alias copas, copy-paste, saja.
Maka sampai di titik ini, saya justru curiga bahwa praksis pernikahan couple zaman now justru lebih cocok disandingkan dengan teori “black skin, white mask” dari Frantz Fanon. Dalam teorinya tersebut, Fanon juga membahas tentang kecenderungan kita, masyarakat bekas negeri jajahan (black skin), yang merasa bahwa segala sesuatu yang berasal dari Barat (white skin) adalah sesuatu yang lebih superior. Kepercayaan ini bahkan telah tertanam di alam bawah sadar sehingga kita secara suka rela tak hanya meyakininya, namun senantiasa berusaha menyerupainya. Namun untuk melakukan ‘penyerupaan’ tersebut, kita membutuhkan ‘white mask’, sebuah ‘topeng’ yang membuat sebagian dari diri kita dapat menyerupai orang kulit putih. Bridesmaid-bridalshower dalam hal ini saya kira adalah ‘white mask’tersebut. Sebuah ‘topeng’ yang meskipun berasal dari luar diri kita, namun kita yakini memiliki fungsi untuk membuat kita ‘setara’ dengan ‘mereka’. Perkara perasaan ‘setara’ tersebut berdampak positif atau negatif tentu perlu pemahaman kontekstual yang utuh dan tidak bisa disamaratakan. Tapi poin intinya, jika mimikri atau ‘membunglon’ membutuhkan pemahaman dan teknik kamuflase tingkat tinggi, maka ‘bertopeng’ cenderung lebih praktis karena ia tinggal pasang saja
Benar tidaknya praduga yang penuh suudzon tersebut tentu masih bisa diperdebatkan. Masih banyak faktor yang saya kira sangat berpengaruh membentuk budaya ‘membunglon’ atau ‘bertopeng’ di sekitar kita. Peran media sosial dan upaya pembentukan citra barangkali adalah alasan yang juga masuk akal – selain dampak trauma pascakolonialisme. Tetapi yang jelas, saya mesti segera menutup Ngibul saya yang sudah kelewat panjang ini. Untuk itu saya ingin menyampaikan tiga hal sebagai bentuk pernyataan sikap.
Pertama, tulisan ini tentu tidak bertujuan untuk mengajak seluruh pembaca, wa bil khusus, couple zaman now, untuk menjadi seorang tradisionalis yang kolot dan membosankan. Sebagai manusia yang hidup di negeri beragam identitas, bersikeras menjadi totok Jawa, murni Batak, atau 100 persen pribumi tentu sesuatu yang konyol dan menyebalkan. Tapi yang perlu diingat, jika bersikeras menjadi murni ‘tradisional’ bukanlah sesuatu yang baik, maka menjadi ‘internasional’ tanpa sungguh paham esensinya adalah sesuatu yang sama lucunya.
Kedua, Jacques Derrida berkali-kali meneriakkan, “Dekonstruksi. Hancurkan. Konstruksi sesuai dengan keinginan. Jangan terjebak pada mitos leluhur!”. Saya percaya bahwa setiap orang berhak bertindak kreatif. Maka, berkreasilah. Leburkan batas-batas identitas. Menikahlah dengan caramu sendiri: mengundang seniman lintas bangsa sebagai pengisi hiburan, membuat seratus macam masakan berbahan jamur sebagai menu hidangan, atau mengganti mahar emas dengan seribu ekor onta atau llama. Semua sah-sah saja selama kita paham alasan dan tujuannya.
Ketiga, jika kamu pernah mengadakan bridesmaid dan bridalshower di pesta pernikahanmu, tentu itu juga bukan masalah. Pernikahan selama telah memenuhi hakikatnya untuk menghalalkan pasangan dan mampu menyatukan dua keluarga, toh sisanya adalah hal-hal yang baik. Lagipula kamu tidak merugikan orang lain dan bahkan membuat banyak orang berbahagia. Saya pun turut berbahagia dan akan mendoakan setiap pasangan yang halal untuk menjadi samawa. Bahkan jika itu mantan atau bribikan tersayang saya.
Akan tetapi, plis, jika esok kamu sudah hamil, kamu tak perlu mengunggah foto di instagram dengan sebuah tagar bertuliskan babyshower.
Apa itu babyshower? Babyshower adalah acara merayakan usia kehamilan yang sudah menginjak tujuh bulan.
Ealah, jebul mitoni.

Tulisan ini pertama kali dimuat di www.kibul.in pada 23 Oktober 2017

Selasa, 10 Oktober 2017

may

kau sore ini biar kutuntun,
dengan jari-jari kecil
kita bergandeng kelingking.

papamu bilang
jaga may ya !
jangan pernah beri dia layangan.

bilah bambu
tak sebatas menggores kulit.
kristal-kristal piring
gelas kaca atau mangkuk cap ayam,
tak boleh dicampur darah.

tapi aku tetap ke gudang,
mencari benang jahitan
setelah tante membuangnya
bersama rok hangus sebelah
dan kaos kaki bolong-bolong

siapa mau dengar orang tua!

may,
nanti malam, jika paman
melemparku dengan sepatu
atau mengirim anjing yang garang
maka rumahmu akan kusiram
dengan seribu kunang-kunang

Senin, 09 Oktober 2017

Kampung Buku Jogja 3: Bukan Sekadar Pameran Buku Mahal


Apa yang paling kita harapkan dari sebuah pameran buku? Barangkali buku-buku murah adalah jawabannya. Satu minggu lalu, tepatnya di awal bulan Oktober, saya baru saja menyambangi Bazar Buku Murah di Mungkid, Magelang. 2 jam berada di sana menjadi waktu yang kelewat mengasyikkan. Saya berada di tengah ribuan buku yang dijual mulai harga 5.000-an. Beruntungnya, saya bisa mendapat buku The Boy in the Striped Pijamas karya John Boyne terbitan Vintage Classics, Skandal karya Shusaku Endo, dan satu novel berjudul Neraka Kamboja yang ditulis oleh Haing Ngor dan Roger Warner untuk menceritakan masa tergelap negeri Kamboja di bawah kekuasaan Khmer Merah. Dua buku yang disebut terakhir sama-sama diterbitkan Gramedia pada awal 2000-an. Berapa harga untuk tiga buku tersebut? Jawabannya adalah: 30.000 rupiah. Yak 30.000 rupiah ! Setara dengan harga celana kolor berbahan saringan tahu.
Lantas ketika satu minggu berikutnya saya mendengar kabar tentang Kampung Buku Jogja, saya pun begitu bersemangat untuk datang ke pameran tersebut. Angan-angan untuk mendapat buku-buku lawas nan langka dengan harga terjangkau seketika membuncah begitu kabar tersebut datang. Kampung Buku Jogja sendiri adalah event sastra tahunan yang sebelumnya telah dilaksanakan dua kali. Untuk perhelatan yang ketiga ini, Kampung Buku Jogja atau biasa disebut KBJ dihelat di area Foodpark Lembah UGM mulai tanggal 4 sampai 8 Oktober 2017.
Saya datang ke KBJ pada hari ketiga. Begitu tiba di lokasi, para pengunjung disambut oleh lima mahaguru yang secara mengejutkan berkostum à la rakjat Indonesia. Para kakung memakai kaos oblong dan sarungan, sementara yang putri memakai kemben dan kebaya. Para mahaguru tersebut adalah Albert Camus, Haruki Murakami, Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir, dan Karl Marx. Mereka berjajar berlima bagaikan Power Ranger yang hendak membasmi segala kejumudan dan kebodohan di Indonesia. Tentu saja mereka tidak hadir langsung dalam bentuk fisik. Murakami kita tahu tengah sibuk bersimpuh pasrah menunggu penghargaan nobel sastra jatuh ke tangannya. Murakami adalah Leonardo Di Caprio-nya dunia sastra. Sementara itu, empat mahaguru yang lain telah mati sejak berpuluh bahkan beratus tahun lalu. Akan tetapi, di KBJ mereka datang sebagai ikon di photobooth yang barangkali menjadi simbol ing ngarsa sung tuladha bagi murid-muridnya yang datang seperti saya.
Setelah berswafoto di  photobooth yang yahud tadi, pengunjung selanjutnya bisa melihat tiga suguhan utama dalam acara ini: area buku lawas, area buku indie, dan panggung utama. Tepat ketika saya memilih melihat-lihat ribuan koleksi di area buku lawas, harapan awal saya datang ke KBJ langsung sirna. “Bajigur, bukune larang-larang tenan”, batin saya. Bayangkan saja, satu buku Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer terbitan Hasta Mitra dijual seharga 250.000. Sementara, buku Keluarga Gerilya bahkan dijual seharga 800.000. Sementara rata-rata buku lawas lainnya dijual di atas 60.000 rupiah. Harga yang kurang ramah bagi saya. Harga tersebut sebenarnya masih bisa kita maklumi mengingat sebagian besar buku yang dijual di situ memang merupakan koleksi langka. Sayangnya, saya menemukan beberapa buku yang hingga hari ini masih dicetak ulang seperti 1984-nya George Orwell dan Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer yang dijual di atas harga normal, bahkan 50 persen lebih mahal dalam harga normal. Asem. Di titik inilah seorang kawan bahkan berseloroh “Ini mah bukan Kampung buku Jogja, tapi Mall buku Jogja”.
Kekecewaan saya di area buku lawas sedikit terobati ketika saya berkunjung ke area buku Indie. KBJ 2017 benar-benar menjadi surga bagi para pecinta buku Indie. Panitia KBJ tahun ini tak hanya mengundang penerbit-penerbit kondang asal Jogja namun juga mengundang penerbit-penerbit Indie dari berbagai daerah lain. Di area ini, kita bisa membeli buku-buku Indie yang bahkan sulit ditemukan di Toga Mas Affandi, seperti buku-buku Penerbit Banana, Trubadur, Ultimus, atau Daun Malam. Harga buku-buku yang dijual di area ini menurut saya juga cukup bersahabat. Rata-rata harga buku di sini dijual dengan diskon 10 persen dari harga normal. Saya mengira buku-buku indie terbaru seperti Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto, Dongeng dari Negeri Bola karya Yusuf Dalipin Arif, dan Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia karya Max Lane adalah tiga buku yang paling banyak diincar oleh para pembaca sastra di Jogja. Tak terkecuali saya.
Kamu boleh kecewa dengan mahalnya harga-harga buku lawas. Kekereanmu yang akut barangkali juga membuatmu makin muram dan menangis tatkala melihat harga buku-buku Indie yang lebih “mayor” daripada mayor itu sendiri. Namun kekecewaanmu akan segera terobati tatkala kamu berkunjung ke panggung utama Kampung Buku Jogja. Selama empat hari berturut-turut, panggung KBJ diisi oleh para pegiat literasi pilih tanding di bidangnya, mulai dari sosok sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, Puthut EA, dan Saut Situmorang, penulis esai-esai bola seperti Romo Sindhunata, Dalipin, dan Eddward Kennedy, para penerjemah seperti Max Lane, AN Ismanto dan Lutfi Mardiansyah, hingga para pegiat buku Indie Jogja seperti Adhe Maruf, Arif Doelz, Irwan Bajang dan Eka Pocer.
Jika saja waktu saya teramat senggang, barangkali saya akan hadir di setiap talkshow yang dihadirkan di panggung utama. Tapi saya bukan pengangguran full-time. Alhasil, saya hanya bisa hadir di talkshow kepenulisan esai bola dan diskusi buku Tak Ada Indonesia di Bumi Manusia karya Max Lane.
Sedikit bercerita, talkshow kepenulisan esai bola lebih banyak bercerita tentang perkembangan kepenulisan esai bola di Indonesia. Esai-esai bola di Indonesia sebenarnya dipelopori oleh Romo Sindhunata yang pada awal 90-an rutin menulis untuk harian Kompas. Romo Sindhunata sendiri tidak membahas bola dari segi analisa taktik atau strategi. Ia lebih sering membahas sepakbola dari apa yang terjadi di luar lapangan, menghubungkannya dengan teori-teori sosial-filsafat, hingga mencari benang merah antara sepak bola dengan pelbagai peristiwa politik di Indonesia. Salah satu hal menarik dari apa yang diceritakan Romo Sindhunata adalah ketika ia mengkritik gaya kepemimpinan Gus Dur dalam menghadapi “musuh-musuhnya” yang menurutnya terlalu catenaccio. Menurut Romo Sindhunata, sekali-kali Gus Dur perlu melakukan permainan menyerang à la Inggris atau Belanda. Tak disangka, Gus Dur justru membalas kritik Romo Sindhunata dengan menjelaskan filosofi catenaccio à la Gus Dur yang punya cara dan filosofi lain dibanding catenaccio Italia. Melihat kritiknya dibalas oleh Gus Dur, Romo Sindhunata hanya memberi satu tanggapan “Sampeyan sudah jadi presiden kok bisa masih sempat nulis bola, Gus?”.
Dalipin barangkali bisa disebut sebagai “Man of the match” di talkshow tersebut. Sebagai seorang penulis yang pernah tinggal 11 tahun di Inggris, Dalipin tak henti-hentinya menceritakan pelbagai “dongeng” dari negeri sepak bola tersebut. Ia menceritakan pengalamannya melihat berbagai fenomena sepakbola di Inggris yang barangkali jarang diliput media. Ia bercerita tentang sejarah kebencian fans Arsenal-Tottenham, tawuran fans Everton dengan jemaat gereja yang berebut tempat parkir, hingga kebiasaan para pemain bola Inggris yang literasinya rendah. Sementara itu, sebagai pembicara yang paling muda, Eddward S Kennedy lebih banyak bercerita tentang pengalamannya membaca karya-karya Sindhunata dan Dalipin yang menginspirasinya menulis esai-esai bola. Ia juga berpendapat bahwa dalam menulis esai sepak bola, seorang penulis tidak harus bersifat netral. Ia misalnya, tak jarang bersikap sebagai seorang “Milanista” ketika menulis suatu esai.
Di hari terakhir perhelatan Kampung Buku Jogja, saya kembali datang dan mengikuti diskusi buku Tak Ada Indonesia di Bumi Manusia yang dipimpin langsung oleh penulisnya, Max Lane. Max Lane sendiri adalah penerjemah 6 karya Pramoedya Ananta Toer ke bahasa Inggris. Hasil-hasil terjemahannya telah diterbitkan oleh penerbit Penguin. Dalam diskusi tersebut, Max mengatakan bahwa tak ada satu pun kata Indonesia dalam tetralogi Bumi Manusia. Meskipun demikian, Bumi Manusia merupakan upaya Pram untuk menjelaskan proses terbentuknya identitas Indonesia. Indonesia bagi Pram adalah “makhluk baru” di Bumi Manusia yang dibentuk rakyatnya sendiri namun dipengaruhi oleh andil dari dunia internasional. Ide tersebut ia tuangkan melalui karakter Minke, seorang pribumi asal Jawa, yang mengalami perkembangan pemikiran berkat karakter-karakter lain yang berasal dari luar Hindia. Sebut saja Jean Marais dan keluarga De la Croix yang memperkenalkannya dengan revolusi Prancis dan prinsip liberté, égalité, fraternité (kebebasan, kesetaraan, persaudaraan) atau Khouw Ah Soe dan Ang San Mey yang mengajarkannya prinsip revolusi Dr. Sun Yat Sen dan pentingnya pergerakan angkatan muda.
2 hari mengunjungi Kampung Buku Jogja adalah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Terlepas dari kekecewaan saya tentang harga buku lawasan yang keterlaluan mahal, namun KBJ telah menggratiskan “buku” yang seharusnya jauh lebih mahal, yaitu buku-buku yang mewujud dalam sosok-sosok pegiat literasi yang hadir secara langsung di Kampung Buku Jogja. KBJ saya kira juga menunjukkan bahwa dunia perbukuan indie di Indonesia semakin menggeliat, buku-buku bermutu semakin banyak lahir, dan penulis-penulis muda semakin bermunculan.

Sebagai penutup, saya ingin menutup artikel ini sebagaimana sebuah artikel event pada umumnya. Ya, artikel ini akan ditutup dengan sebuah harapan: semoga Kampung Buku Jogja bisa digelar kembali di 2018 dengan Haruki Murakami asli sebagai bintang tamunya.

Dokumentasi:






CUCUK SENTHE


Jika kamu pernah membaca cerpen “Kang Sarpin Minta Dikebiri” karya Ahmad Tohari, maka kamu tak akan asing lagi dengan istilah yang jadi judul dalam Ngibul ini. Cucuk Senthe adalah istilah dalam bahasa Jawa yang merujuk pada lelaki dengan dorongan birahi yang meledak-ledak hingga ia tak bisa mengendalikan gairahnya sendiri.
Dalam cerpen “Kang Sarpin Minta Dikebiri”, Sang Cucuk Senthe tersebut adalah seorang lelaki paruh baya bernama Sarpin yang dikenal telah meniduri puluhan atau mungkin ratusan perempuan dan tak pernah menutup-nutupi hobinya tersebut kepada para tetangganya di desa. Alkisah, suatu hari Kang Sarpin berkeluh kesah pada tokoh yang menjadi narator dalam cerpen ini. Dalam curahan hatinya, ia mengaku amat kesal pada burungnya sendiri.
“Dia amat bandel. Bila sedang punya mau, burung saya sama sekali tak bisa dicegah. Pokoknya dia harus dituruti, tak kapan, tak dimana. Sungguh burung saya sangat keras kepala sehingga saya selalu dibuatnya jengkel. Dan bila sudah demikian, saya tak bisa berbuat lain kecuali menuruti apa maunya (Tohari, 82:2015)”.
Akan tetapi, Kang Sarpin sungguh-sungguh menyesal dan ingin meraih pertaubatannya. Maka, demi mencapai hal tersebut, ia ingin agar burungnya segera dikebiri. Sadar bahwa tak akan ada mantri sunat yang mau melakukannya, ia kemudian dengan penuh kesadaran datang ke tukang sabung dan potong ayam, membayarnya, lalu memintanya untuk memotong burungnya: burung Kang Sarpin.
Dalam karya sastra Indonesia, sebenarnya ada juga kisah lain yang menceritakan hubungan manusia dengan burungnya sendiri. Tahu kisah si Ajo Kawir? Ia adalah tokoh utama dalam novel “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (SDRHDT)” karya Eka Kurniawan. Meski tak separah sosok Kang Sarpin, Ajo Kawir saya kira punya potensi besar untuk menjadi Cucuk Senthe. Jauh sebelum dikenal sebagai pria paruh baya yang ngga bisa ngaceng, ia dulunya adalah seorang bocah yang setiap malam tak bisa menahan birahinya untuk tidak mengintip persenggamaan dua orang polisi dengan seorang perempuan gila. Namun berbeda dengan Kang Sarpin yang memilih menghilangkan sifat Cucuk Senthe-nya dengan memotong burung sendiri, Cucuk Senthe Ajo Kawir justru hilang dengan sendirinya. Hal tersebut terjadi setelah ia dipaksa memasukkan burungnya ke saluran peranakan si Perempuan Gila oleh dua polisi yang menangkap basah aksi voyeurisme-nya. Malangnya, tiba-tiba kadar Cucuk Senthe Ajo Kawir benar-benar lenyap sampai ke titik nol. Burungnya tidur panjang dan tak pernah mau bangun lagi meskipun ia usahakan dengan berbagai cara.
Membaca cerpen “Kang Sarpin Minta Dikebiri” dan novel “SDRHDT”  sebenarnya menimbulkan perasaan agak miris bagi saya. Saya percaya, sebagaimana Kang Sarpin atau setidaknya Ajo Kawir, setiap orang memiliki potensi ke-Cucuk-Senthe-an masing-masing. Jauh-jauh hari, Sigmund Freud pernah bilang bahwa tidak ada motif yang lebih valid yang menggerakkan tindakan manusia selain insting libido. Eka Kurniawan juga nampaknya menyetujui hal ini dengan menulis pada novel “SDRHDT”:
Kemaluan bisa menggerakkan orang dengan biadab. Kemaluan merupakan otak kedua manusia, seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala” (Kurniawan, 126: 2014).
Kutipan di atas sebenarnya mengingatkan kita bahwa manusia tak pernah bisa lepas dari kemaluannya: penggerak utama segala insting libido. Namun saya kira, insting libido sebenarnya bukan hanya suatu insting yang berhubungan dengan gairah seksual atau nafsu birahi semata. Lebih jauh dari itu, insting libido bisa merujuk pada segala nafsu kebinatangan yang melampaui soal makan, minum, dan seks: keserakahan, keinginan membunuh, hasrat pamer kekuatan atau segala sifat lain yang tidak lagi mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan.
Coba ingat dengan baik apa yang terjadi di sekitar kita akhir-akhir ini. Para wakil rakyat mengorupsi uang KTP sampai 2,8 Trilyun. Uang segitu kalau dihitung bisa untuk membiayai kuliah satu orang di UGM selama 450.000 semester. Atau kalau bingung, uang segitu paling tidak bisa untuk membiayai kuliah 50.000 mahasiswa dari masuk sampai lulus. Gendeng? Tentu tidak segendeng fakta bahwa beberapa hari lalu, justru banyak wakil rakyat lain yang berusaha melindungi pimpinannya supaya tidak berangkat sidang kasus tersebut.
Tidak usah jauh-jauh ke Rohingya, saat ini banyak orang sekitar kita yang mentang-mentang mayoritas, lalu dengan entengnya berikrar siap menghunus pedang untuk para minoritas “berdarah halal” yang mereka anggap menyimpang karena berbeda.
Atau marilah kita menengok yang paling dekat pada diri kita sendiri, misalnya seberapa sering kita ingin segera memperlihatkan gawai terbaru, foto makan Escargot pas Euro Trip atau bahkan, haha, pamer buku-buku bacaan? Sadar tidak sadar, diakui atau tidak diakui, tindakan kita tersebut seringkali hanya –meminjam istilah Bordieu—strategi kekuasaan melalui praktik pembedaan diri (la distinction) untuk meraih power di masyarakat. Untuk persoalan ini saya punya saran –terutama untuk diri saya sendiri—, alih-alih sekadar pamer, tulislah pengalaman kita bersama hal-hal tersebut (gawai, makanan, perjalanan, buku) dengan rapi dan menarik, syukur-syukur memberikan pandangan-pandangan hidup yang humanis – selanjutnya kirim ke redaksikibul@gmail.com. Hal tersebut saya kira penting. Kita perlu belajar untuk membiasakan diri memberi sesuatu yang informatif dan reflektif di tengah derasnya informasi yang kebanyakan lebih layak dilempar ke keranjang sampah: ya, seperti foto-fotomu yang sebenarnya blas nggak berfaedah itu. Kurang-kurangin lah…
Baiklah, melihat berbagai realita akhir-akhir ini, juga apa yang sering kita lakukan setiap hari, saya jadi berpikir bahwa jangan-jangan kita semua adalah seorang Cucuk Senthe? Jangan-jangan kita selalu punya dorongan birahi yang meledak-ledak untuk menunjukkan hasrat kebinatangan kita: keserakahan, keinginan membunuh, hasrat pamer kekuatan? Jangan-jangan, mayoritas masyarakat kita adalah masyarakat Cucuk Senthe? Lalu jika kita tak mungkin menjadi Ajo Kawir yang dorongan birahinya hilang sendiri, haruskah kita memotong paksa burung kita seperti Kang Sarpin? Masalahnya, jika semua orang adalah Kang Sarpin, bukankah hanya kita yang bisa memotong “burung” kita sendiri?

Sabtu, 19 Agustus 2017